Upacara Adat Pagar Bumi Padukuhan Kopen

August 14, 2025

DAPOBUD-OPK: Ritus,

Upacara adat pagar bumi telah berlangsung turun-temurun sejak berdirinya daerah yang dikenal sebagai Pulesari sebagaimana cerita dalam Babad Pulesari. Hingga saat ini tradisi pagar bumi menjadi sebuah adat istiadat yang khas dan rutin dijalankan oleh masyarakat setempat. Bahkan, tradisi ini menjadi daya tarik para wisatawan yang berkunjung dan berwisata di Pulesari. Masyarakat Pulesari berharap agar tradisi pagar bumi yang berjalan setiap tahun ini menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, dengan harapan semoga warga Pulesari senantiasa dilimpahkan rahmat, kesehatan, keamanan, dan ketenteraman. Selain itu, juga agar daerah Pulesari menjadi tempat yang adil, makmur, dan sejahtera, dijauhkan dari segala bala cobaan dan marabahaya.

Upacara pagar bumi diawali oleh pengambilan toya suci atau air suci dari pajupat lan lima pancer, yakni sumber mata air yang berada di Pulesari. Prosesi ini dijalani oleh ketua adat, pimpinan pemerintahan, tokoh masyarakat, dan tokoh agama setempat.

Setelah proses pengambilan air suci terlaksana, kemudian dibawa oleh warga menuju Masjid Darussalam di Pulesari dengan iringan hadroh dan lantunan shalawat untuk selanjutnya dilaksanakan proses mujahadah. Kemudian, setelah berlangsung salat jamaah magrib, warga melaksanakan salat sunnah tolak bala Rabu Pungkasan dan mujahadah dengan membaca surah Yasin sebanyak 41 kali dilanjutkan dzikir dan amaliah lainnya. Setelah selesai pembacaan Yasin dan beberapa amaliah oleh jamaah, kemudian seluruh jamaah meniup air suci atau toya suci tadi.

Acara selanjutnya adalah tapa brata, yakni bertapa dengan memutari kawasan Pulesari dengan azan dan melantunkan macapat. Prosesi ini bersamaan dengan menyiramkan toya suci di perbatasan Pulesari dengan lantunan pembacaan ayat Kursi di dalam hati oleh pasukan atau Bregada Tambak Baya.

Lantunan azan dikumandangkan oleh lima orang, begitu juga dengan macapat dilantunkan oleh lima orang. Pengumandangan azan dan lantunan macapat dilakukan di pajupat lima pancer di Pulesari.

Setelah prosesi tapa brata yang dijalankan dari kanan ke kiri ini berlangsung, maka dilanjutkan Kirab Bregada Tambak Baya. Beberapa benda atau uba rampe dalam kirab, di antaranya tombak, keris pusaka Pulesari, mustaka Masjid Darussalam, tumpeng Wulu Wetu, tumpeng Lanang Wadon, dan beberapa perlengkapan lainnnya, dikirabkan dari Masjid Darussalam menuju makam Pulesari untuk menuju kepada prosesi inti, yakni upacara pagar bumi.

Rangkaian acara selanjutnya, yakni acara inti, dengan rangkaian sebagai berikut; pertama, kirim doa untuk arwah Nyai Pulesari dan Kiai Ahmad Nurrohman sebagai cikal bakal berdirinya daerah Pulesari. Dilanjutkan kirim doa untuk Kiai Tokariyo, Kiai Somonawi, dan seluruh ahli kubur Makam Pulesari. Kedua, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan oleh kepala adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat Pulesari. Ketiga, tasyakuran. Dan, keempat, penutup dengan tari-tarian, yakni Tari Salak Lereng Merapi.